Art Deco
Art Deco adalah gaya hias yang lahir setelah Perang dunia I dan berakhir sebelum Perang Dunia IIyang banyak diterapkan dalam berbagai bidang, misalnya eksterior, interior, mebel, patung, poster, pakaian, perhiasan dan lain-lain. Dalam perjalanannya Art Deco dipengaruhi oleh berbagai macam aliran modern, antara lain Kubisme, Futurisme dan Kontruktivisme serta juga mengambil ide-ide desain kuno misalnya dari Mesir, Siria dan Persia. Seniman Art Deco banyak bereksperimen dengan menggunakan tekhnik baru dan material baru, misalnya metal, kaca, bakelit serta plastik dan menggabungkannya dengan penemuan-penemuan baru saat itu, semisal lampu. Karya-karya mereka memakai warna-warna yang kuat serta bentuk-bentuk abstrak dan geometris misalnya bentuk tangga, segitiga, dan lingkaran terbuka, tapi terkadang mereka masih menggunakan motif-motif tumbuhan dan figur, tetapi motif-motif tersebut memiliki bentuk yang geometris. Komposisi elemen-elemennya mayoritas dalam format yang sederhana.
Poster Promosi untuk film Metropolis
Asal-Usul Nama Art Deco
Ungkapan Art Deco pertama kali diperkenalkan pada tahun 1966 dalam katalog yang dietrbitkan oleh Musee des Arts Decoratis di Paris yang saat itu sedang mengadakan pameran dengan tema “Les Annes 25″ yang bertujuan untuk meninjau kembali pameran internasional “Eksposition Internationale des Art Decoratifs et Industriels Modernes” yang diselenggarakan pada tahun 1925 di Paris. Sejak saat itu nama Art Deco menjadi dikenal dan semakin populer dengan munculnya beberapa artikel dalam media cetak. Pada tanggal 2 November 1966 artikel yang berjudul “Art Deco” dimuat dalam majalah The Times, setahun kemudian artikel “Les Arts Deco” dari Van Dongen. Chanel dan Andre Groult furniture dimuat dalam majalah Elle. Ungkapan Art Deco semakin mendapat tempat di dalam dunia seni dengan dipublikasikannya buku “Art Deco” karangan Bevis Hillier di Amerika pada tahun 1969. Jadi, sebelum tahun 1966, masyarakat belum mengenal nama Art Deco dan menamai seni yang populer di antara kedua perang dunia itu sebagai seni ‘Modern’
LATAR BELAKANG MUNCULNYA ART DECO
Revolusi Industri
pada akhir abad ke-19 sampai awal abad ke-20, adalah kurun waktu dimana masyarakat dunia diliputi oleh berbagai macam konflik. Konflik-konflik ini muncul sebagai akibat dari Revolusi Industri yang menciptakan pergeseran sosial, berbagai macam pengetahuan dan tekhnologi baru membawa perubahan besar bagi kahidupan manusia. Keadaan sosial masyarakat berubah, dari masyarakat agraris menjadi masyarakat industrial. Kekuatan mesin menggantikan tenaga manusia yang sangat terbatas. Apa yang masyarakat lihat dan dengar berubah dengan cepat. Barang-barang untuk keperluan hidup sehari-hari mulai banyak diproduksi oleh mesin dan secara massal. Meskipun demikian tidak semua masyarakat menerima dan menyukai barang-barang yang diproduksi oleh mesin, banyak yang masih menyukai hasil kerajian tangan dengn seni tradisional. Barang-barang produksi mesin tidak seindah hasil kerajinan tangan meskipun harganya tidak mahal tapi tidak banyak peminatnya, sebaliknya barang-baran
Revolusi Industri juga membawa perubahan pada arsitektur. Selama berabad-abad arsitek hanya mengkonsentrasikan karyanya pada bangunan-bangunan ibadah, kastil, dan rumah para bangsawan. Setelah adanya Revolusi Industri diperlukan suatu tipologi bangunan yang berbeda dari abad sebelumnya, misalnya pabrik, stasiun, bangunan perdagangan, bangunan perkantoran, perumahan dll. Seiring dengan meningkatnya jumlah produksi meningkat juga jumlah pabrik, agar distribusi menjadi lancar, dibuat jalan-jalan raya penghubung antar kota, dan diciptakan juga alat transportasi modern, misalnya mobil, kereta, kapal dan pesawat. Sehingga pada zaman itu muncul konsepsi-konsepsi baru tentang iklan, fotografi, produksi massal dan kecepatan/laju.
Perang Dunia I
Perang Dunia I yang berlangsung di Eropa pada tahun 1914-1918 menyebabkan kerugian jiwa dan material yang amat besar. Setelah perang berakhir, masyarakat sibuk menata kembali lingkungannya, membangun kembali tempat tinggalnya dan mereka memerlukan berbagai macam peralatan rumah tangga, pakaian, keramik dll., hal ini memberikan semangat pada mereka untuk menghasilkan inovasi-inovasi baru. Barang-barang yang diperlukan masyarakat adalah yang modern dan fungsional. Art Noveau yang sempat popular pada tahun 1894-1914 tak lagi bisa bertahan sebab hasil karya mereka kurang fungsional, penuh dekorasi dan harganya sangat mahal.
Usaha-Usaha Mencari Soulusi Permasalahan
Seni modern yang muncul pada awal abad ke 20 ini merefleksikan sensasi yang dialami pada waktu itu. Para seniman mencari pemecahan atas konflik yang timbul dengan menciptakan suatu gaya yang dapat merangkul selera semua lapisan masyarakat. Sekolah-sekolah seni dan pameran-pameran seni adalah tempat yang dipakau para seniman untuk bertukar pikiran dan menciptakan ide-ide baru. Pengenalan terhadap materaial baru semisal plastik, bakelit, kaca dan krom mengharuskan para seniman mencari cara dan gaya sehingga material tersebut dapat diolah dan diproduksi secara massal
Adapula yang meniru rancangan-rancangan lama yang disukai dan terbilang mewah karena berasal dari material yang langka dan biasanya dikerjakan oleh pengrajin, tujuan meniru tersebut agar hasil karya itu dapat dinikmati oleh semua lapisan masyarakat. Pengertian bahwa dengan desain yang bagus dapat menaikkan omset penjualan sudah dikenal para seniman dan pengusaha, hal ini membuat meraka berpikir bagaimana menghasilkan barang dengan desain yang bagus, artinya sesuai dengan selera pasar dan dapat dinikmati oleh semua lapisan masyarakat. Usaha-usaha pencarian desain yang sesuai dengan selera masyarakat dapat dilihat dalam keragaman hasil rancangan para seniman tersebut.
PARA SENIMAN ART DECO
Beberapa desainer sangat identik dengan Art Deco, semisal Jaques-Emile Ruhlmann yang dikenal sebagai master Art Deco karena selalu memakai material yang mahal untuk karya mebelnya. Desainer mebel lainnya seperti Paul Follot, Pierre Chareau, Clement Rousseau, tim desain Sue et Mare (Louis Sue and Andre Mare) serta Eileen Gray. Rena Lalique dikenal dengan hiasan dari kaca dan desain perhiasannya, Susie Cooper dan Clarice Cliff terkenal dengan keramiknya, Jean Puiforcat dengan perak dan pekerjaan metalnya, Paul Poiret terkenal dengan motif tekstilnya, dan A.M. Cassandre dikenal dengan poster-posternya.
Desainer Art Deco terbagi menjadi dua kelompok, kelompok pertama adalah desainer yang mengkonsentrasikan diri pada desain yang individual dan dikerjakan dengan kemampuan pekerjaan tangan yang tinggi, rancangan tersebut hanya dapat dibeli oleh kalangan atas, sedangkan kelompok lainnya adalah kelompok desainer yang mengutamakan desain berbentuk geometri dengan berdasarkan pada pertimbangan fungsional.
Beberapa desainer Art Deco yang menciptakan barang-barang untuk masyarakat luas di antaranya Susie (Susan Vera) Cooper (1902-1995) yang terkenal tidak saja sebagai desainer, tetapi juga sebagai produser keramik. Desainer Art Deco lainnya yang memiliki visi yang sama adalah Rene Lalique (1860-1945). Dia mengawali karirnya sebagai desainer perhiasan Art Noveau yang sangat inovatif. Pada awal abad ke-20, ia mengalihkan perhatiannya pada material kaca dan merintis teknik-teknik memproduksi kaca/gelas secara massal. Dia mendesain berbagai jenis barang, semisal botol parfum, lampu, vas, peralatan makan, patung, dan perhiasan dari kaca.
Rene Lalique
PENGARUH ART DECO
Art Deco merupakan salah satu aliran yang amat populer pada masanya. Tak seperti De Stijl yang merupakan aliran seni yang idealis dengan tokoh-tokohnya yang terbatas, Art Deco dipakai secara luas pada masanya.
Mobil Nash Ambassador yang bergaya Streamline
Dalam bidang arsitektur dapat diambil beberapa contoh, semisal puncak gedung Chrysler di New York, Jembatan Golden Gate di San Fransisco, dan Stasiun Kereta Api Union di Omaha, Nebraska. Di bidang perhubungan, gaya Art Deco menghiasi interior dari Kapal Pesiar Ile de France, Queen Mary dan Normandie. Selain itu kereta api dan mobil penumpang pada masa itu banyak mengadopsi bentuk streamline yang merupakan turunan dari Art Deco.
Teater Rivoli di Oporto, Portugal. Dibangun tahun 1923.
Walter Dorwin Teague’s “Beau Brownie” Kamera untuk Eastman Kodak.
Gedung Bioskop Phul di Patiala, India